Kenapa kucing? karena kucing bisa disayang-sayang, dielus, dipeluk, bisa sekamar juga. Kalo pacar nggak bisa sekamar, kalo meluk-meluk harus pake dimarahin bapaknya dulu.. tapi sama kucing nggak bisa cipokan (ciuman).
Eyy rocker! risih deh dengernya, imajinasi bertaburan kemana-mana. eh tapi aku dengki dengan kucingmu. Hahaha ini apaaaa?!
First kiss gue terjadi menjelang subuh waktu kapal Titanic berlayar dari Inggris ke New York. Eh, first kissing movie scene that i've seen maksudnya. Film bule itu awal mula tersentuhnya otak gue dengan hal-hal asusila, selain dari film-film india pastinya.
Adegan cipokannya Jack Dawson sama Rose di haluan kapal.
Film itu, kali pertama gue tonton di VCD bareng mamas gue tercinta. Mas Al.
Beberapa menit berlalu, nampak oke-oke saja. Tapi.. jengjengjeng.. sampailah di bagian Rose buka brankas dan pamer Heart of The Ocean ke Jack, dan selanjutnya..
Seketika ruangan menjadi gelap gulita, nggak ada sinar yang jatuh di retina gue.
"anak kecil, nggak boleh nonton!"
ini suara si mamase..
Tangannya nutupin mata gue beberapa menit. Onyeetttt.
Pesan moralnya, jangan pernah nonton film romantis bareng saudara cowok. Pokoknya jangan!
Hampir semua film bule ada adegan cipokannya, bahkan film Hachiko pun. Waktu itu gue beli CD film versi bulenya, dan nonton bareng keponakan umur enam tahun. Sekali lagi, jangan nonton film
Bukan cuma film, tapi kehidupan nyata mungkin udah nggak asing lagi tentang urusan bibir yang satu ini. Suatu siang di bawah rimbun pepohonan, gue pun terlibat dalam perbincangan yang bikin gue pingin angkat satu alis ke atas kayak Om Deddy Corbuzier. Nggak bisa sih tapi.
![]() |
| First kiss mereka.. - -" |
Seorang teman, namanya Bona. Dia berkisah..
"bayangin, gue ciuman pertama kali itu pas baru lulus SMA. bayangin cobakk.."
"abis itu gue nangis..." lanjut Bona
Mungkin maksudnya sih disuruh bayangin alangkah cupunya dia yang baru first kiss pas itu, tapi dibayangan gue ada dua makhluk ababil berseragam putih abu-abu penuh coretan pilox menderita kembar siam di bibir beberapa menit. Tuhaaaann...
salah fokus. Imajinasi gue terlalu kreatif.
Saat itu, dari pernyataannya kemudian ada banyak dugaan bermunculan di otak gue, apa tiap hubungan pacaran itu wajib ada ritual cipok-mencipok, apa cipokan mesti dilakuin sebelum SMA, apa semua orang bahkan ababil yang pacaran.. bibirnya nggak virgin lagi, berapa lama durasinya, atau gue yang cupu karena kecupan perdana bibir gue sampe sekarang masih dikarantina buat doi seorang pas udah dapet sertifikat halal MUI? nah... :v :v
Kalo ciuman aja udah berani, berarti hal lain waktu pacaran pun pernah dilakuinnya.. eitss, jangan mikir aneh-aneh. Ngaduk semen bareng misalnya.
Rusak deh rusak..
Gue nggak ikut menanggapi atau menimpali kisahnya karena fokus perbincangan sebenarnya antara Bona dan Vio. Gue-nya jadi obat nyamuk aja. Gue fokus dengan bibir gue sendiri beserta mulut yang penuh kunyahan nasi. Mau menanggapi apa?
Prolog kisah si bibir ketemu bibir ini bermula dari rumpian iseng tentang Raisa. Teman kita yang baru aja jadian. Waktu itu Raisa nggak ikut di acara kongkow bersama itu.
Sebelumnya kata Bona,
"eh, Raisa itu nggak pernah pacaran ya?
nanti susah loh nanti waktu sama cowok.."
Gue nggak paham, susah di situ definisinya apaan. Imajinasiiiiii (lagi)....
Satu-satunya komentar gue..
"(Raisa) pernah (pacaran), tapi cuma sebentar-sebentar."
Kemudian gue pura-pura mati.
Sambung Bona lagi,
"oh.., tau nggak di antara temen-temen kita.. yang paling virgin itu Sasa. Pacaran aja nggak pernah ngapa-ngapain. Pegangan tangan aja nggak pernah, apalagi ciuman.."
Hwaya.. mader fader...
hmm gitu ya, jadi lipstick di bibirmu sudah berapa kali dirusak bibir kekasihmu, Bon?
Duh.

No comments:
Post a Comment