Aku tak paham ini tentang siapa sebenarnya yang merindukan siapa..
bagian dari dirimu selalu menghantuiku
aku tak pernah paham kenapa dia terus memanggil namamu, wajahmu, suaramu..
tanpa jeda, walau akal sehat dan realitasku tak lagi pernah menyentuhmu.
kamu kah yang sengaja menyelinap, melebur di tiap imajiku,
atau aku kah yang tak benar-benar melepas, memeluk bayanganmu
organ tubuh di rusuk kiri seperti meledak seseru granat ketika melintas kamu
Kamu.. serpihan kisah di otakku..
Aku mencintamu seperti Kenanga..
seorang gadis di novel yang kubaca, yang terlalu mencintai lelaki yang belum pernah ditemuinya, belum pernah dikenalnya di alam nyata.
Kenanga adalah pemilik tunggal cinta sang lelaki di alam mimpi miliknya..
hanya lelaki itu hidupnya, dunianya..
hingga dia memutuskan untuk mencari, menemukan sang pemilik jiwa raganya itu di realitasnya
Aku tak benar-benar seperti Kenanga.. tidak segila dia, yang mencintai lelakinya yang tak bersosok di dunia nyata lalu membuat kesimpulan sendiri bahwa sang lelaki tidaklah imajiner.
Aku mengenalmu, kamu nyata.
Kamu pernah ada di hatiku, di dekatku, di pandangan mataku.
Aku tak tau aku kenapa
yang aku tau, ada sel-sel di tubuhku yang terracun olehmu
entah bagian yang mana. Menjadi kontra dari diriku sendiri
aku pun mau membunuhnya, tapi bagaimana dan dengan apa
Di dimensi itu, kamu tak pernah beranjak dari sisiku
Aku dengar suaramu, bisa merasakan sentuhan tanganmu, bibirmu.
Kamu berdiri di hadapanku,
aku penyuka senyummu. Senyum yang sama dan lesung pipit yang manis.
Hey, aku tak paham ini apa?
Apa aku mencintai sosok dirimu hasil rekaanku sendiri?
tapi aku tau, ini bukan nafsu untuk memilikimu
bukan pula perkara cinta sepihak.
Aku tidak sedang mencintai siapa-siapa, termasuk kamu
logikaku pun terlalu sehat untuk menyebutmu cinta (lagi)
kabar tentangmu samar, bahkan tak pernah kudengar
hanya.. ku masih ingat jelas suara lucumu, mata coklatmu, senyummu
Ini tentang pertanyaan tentang artimu, tentang jutaan kali kehadiranmu di otakku
tentang rasa padamu yang mencoba kembali berteriak
saat mataku mulai terpejam nyenyak, saat matamu menemukan mataku
saat bagian dari diriku menjadikanmu yang teristimewa di sana
kamu selalu menemuiku di dimensi tanpa batas
membuatku redup dan benderang di waktu bersamaan
tentu, rasa untukmu sisa secercah di diriku memang
tapi di dimensi itu, kamu pemilik hatiku utuh
Aku begitu tak paham konspirasimu dengan Tuhan
konfirmasi apa yang harus kuminta dari-Nya,
kenapa residu tentangmu tertinggal dalam
kamu ada selamanya di otakku, di relungku
Aku yang bukan aku, yang mencintaimu itu selalu memuja malam
saat dia menyerah dalam pelukanmu. kamu.. cinta mati bagian dari diriku
tapi, hal itu membuatku senang mengutuk pagi
kenapa harus memulai hari dengan perasaan mati..
No comments:
Post a Comment