Thursday, 9 November 2017

SIRNA 2

Thursday, November 09, 2017 0 Comments
poto abang-abang sirna

Pertengahan taun 2015 kemarin, gue punya temen chat. Cewek, sebut saja namanya Vina. Seumuran gue, anaknya manis, lucu, charming, kadar sengkleknya imbang dengan gue, tinggalnya di Kalimantan. Kita temenan, awalnya dia itu costumer onlenshop gue.

Kali pertama, dia yang chitchat gue duluan, kenalan secara personal. Lalu lama-kelamaan berlanjut dengan chat bahas segala keremehan dan kerecehan apa aja.

Vina sering curhat seputar gegalauan nya karena jomblo, ditinggal kawin pacarnya, ga bisa moveon. Plus demen ngeledekin gue juga karena jomblo. *wkkk kok ngenees gue ngetiknya*. Pokoknya obrolan ga jauh-jauh dari keabsurdan sehari-hari.

Dia sering cerita tentang (mantan) kekasihnya. Kekasihnya itu adalah temen sejak SMA-nya. Namun, entah gimana ceritanya, tu lakik lebih milih nikah sama perempuan lain, yang juga temennya Vina. Harapan Vina hidup bersama kekasihnya lebur saat itu.

Si lakik itu berdalih tidak mau jadi anak durhaka karena perempuan yang direstuin emaknya untuk nikah dengannya itu si perempuan temennya Vina itu. Sebut saja Tutik. Si lakiknya, sebut saja Udin.

Di belakang Tutik, Vina dan Udin masih intens ketemu pun hubungan via telepon. Si Vina pun ngirimin gue poto begron hpnya yang make poto berdua dia bareng Udin. Gue nggak komen apa-apa dan memang nggak punya hak apa-apa. Vina sendiri sangat paham kalo "jalannya" itu nggak bener. Lagipula, orang yang sedang dikekep cinta otomatis buta plus budek kan.. so, kalopun gue dimintainya saran pasti nggak ada faedahnya.

Vina bilang kalo kisah cintanya itu kayak sinetron rumah tangga alay indosiar yang sontreknya terangkanlah.. terangkanlah.. itu. Pada akhirnya, sang ibunya Udin menyesal karena memilih Tutik sebagai mantu.

Lalu, suatu hari dia cerita lagi ke gue kalo dia ngasih tenggat waktu tiga bulan untuk Udin buat cerein biniknya untuk kembali padanya. Namun, setelah itu gue nggak pernah tau kabar Vina lagi.. kontaknya menghilang dari aplikasi chat, tanpa pernah gue tau kenapa. Sosmednya nggak pernah update lagi. Dan gue (lagi-lagi) terbiasa dengan orang-orang yang datang, menyapa, lalu pergi.

Entahlah.. apa kabar Vina dan cinta butanya, berlanjut atau benar-benar harus sirna.

Hey, Vin! 
apa kabarnya?  """""" ε  """""""



Wednesday, 1 November 2017

SIRNA

Wednesday, November 01, 2017 0 Comments
Virzha. Vidclip Sirna - youtube

Sejak awal loncing vidclipnya 24 Februari 2017 sampe sekarang tetep jadi salah satu lagu kebangsaan gue klo sedang menjelma jadi bathroom diva. Gue biasa aja saban denger maupun nyanyiin SIRNA-nya Virzha. 

Sirna sama sekali bukan pengejawantahan apa-apa kepada siapa-siapa buat gue. Tak pernah ada makhluk sesempurna itu, hingga bikin gue nelangsa, ngarep, dan mengakui bahwa "kau buat sirna, sudahlah.. harapanku hidup bersamamu.." sama seperti kisah milik penulisnya.

Sirna berkisah tentang seseorang yang melow karena harapan maha tingginya sirna dipotekkin karena ditinggal nikah orang terkasih, lalu pasrah-pasrah yasudahlah mau apa lagi. Intinya, peluapan emosi sang pemilik lagu ini (mungkin) ke perempuannya dulu. 

Sudah sebegitunya kah kamu di usia 18, Bang? perempuan kayak gimana yang sudah nyakititin makhluk selucu kamu? *tsaaaahh
*abang, maaf ya kalo salah, sok tau, dan diksi yang semau-mau*

For me, it's just a soulful beautiful song written by a lovely guy.

Tapi tau ga sih, Bang..
ada satu waktu yang bikin gue sakit. Mata akutu cem disebor bubuk cabenya kang tahu bulat waktu ga sengaja liat kamu mau perform di tipi. Waktu intermezo sebelum bawain Sirna, kamu bilang "... buat kalian yang pernah ditinggal nikah...". 

Huhuhu pedih. Dari kuping menikam ke hati. Tiba-tiba langsung tergenang becekan ni mata. Beberapa saat, kata-kata kamu itu ngelempar aku ke moment beberapa waktu lalu. Di hari gue terakhir ngeliat punggung seseorang yang langkahnya menjauh. Punggung seseorang, yang dengannya.. gue punya beberapa moment awkward bersama.

Hari itu, gue nangis tanpa suara, lalu dengan sekejap ngubah ekspresi kayak dora the explorer udah kelar misi jelajah kebon lagi pas di depan kance-kance. Sama seperti semula, tak lagi ada badai. Aku menenangkan badaiku sendiri.

Gue ga bisa cerita detailnya apa.. biar jadi kisah yang ga pernah diperdengarkan aja. Namun, hal yang gue tangisin bukanlah dia, bukan dia bersama dia, bukan segala tentang dia, tapi..
waktu dan bagian diri gue sendiri yang pernah hilang karena lama "menatapnya". 

Lalu, sejak hari itu, dia pun undur diri dari mimpi-mimpi malam gue. SIRNA.
Can you tell me how to hug ourselves soul, huh?

Nah, yang bikin gue sedih nambah-nambah lagi.. bubar acara tipi tu, kamu mesti amat cipikacipiki sama japok mujaer.., Bang. 
Cukup! cukup! aku tidak kuat, Mas.. 
Hahamblugudushaha.

Btw, waktu tahun 2008 pascaditinggal nikah kamu gegalauan gimana, Bang? curhat sama kucing? meluk, nguyel-nguyel kucing di pojokan kamar?
*set tahun 2008* *time travel* 
*sini-sini, sayangku.. kakak peluk* wkokokoko  """""" ∇ """"""'

ataukah kamu garuk-garuk tembok sambil dengerin aku lelakimu versi om Anang? (wkk. manalah tenar lagu ni sebelum jadi milik kamu).
ehehe

Lah jadi panjang keles tulisan ini, padahal semula mau nulis pendek-pendek saja.
Pendek-pendek saja.







Follow Us @soratemplates