Suatu hari gue dkk praktikum mata kuliah manajemen hutan mangrove di tepi pantai ******** , kenapa ke pantai? ya karena tanaman mangrove/bakau ditanem di sonoh dong, bukan di sawah *krik*. Salah satu fungsi utama hutan bakau atau mangrove adalah untuk melindungi garis pantai dari abrasi atau pengikisan, serta meredam gelombang besar termasuk tsunami. Di Jepang, salah satu upaya mengurangi dampak ancaman tsunami adalah dengan memasang Green Belt atau sabuk hijau hutan mangrove atau hutan bakau (copas Wikipedia dikit).
Diluar bikin plot, ngitungin jumlah, diameter pohon, yang paling asik dari praktikum-praktikum outdoor itu rasanya udah kayak piknik rame-rame. Gue &sohib gue biasanya kalap bawa bekal makanan banyak, kombinasi antara takut terjangkit kelaperan, rakus, sama berasa bakalan menetap beranak-pinak di sonoh.
Gue dkk dibagi jd beberapa kelompok kecil beranggotakan 4 sampai 5 orang, dan masing-masing kelompok disebar ke lokasi yang udah ditentuin sama sang asdos. Gue agak lupa materi praktikumnya ngapain aja, yang jelas nggak jauh-jauh dari vegetasi mangrove, semacem pengenalan jenis-jenisnya, hama penyakit, cara tanam, dll.
Selesai praktikum, gue dkk jalan-jalan di lokasi praktikum, sambil ngobrol, sambil makan, serasa wisata. Sepanjang menyusuri pantai, gue ngeliat makhluk kecil bening, maksud gue.. banyaaaaaakk makhluk kecil bening yang berbaring lucu tersapu pasir-pasir pantai.
![]() |
| macem beginian nih, tapi di pasir (di mata gue sih..) |
Gue pun agak kepo dengan makhluk-makhluk itu, lalu menduga-duga sendiri "apa mereka itu para cumi-cumi yang terdampar, apa mereka itu sejenis spesies makhluk air payau yang hidup berkoloni di vegetasi mangrove, atau jangan-jangan ini bakal jadi penemuan spesies baru abad ini". Kekepoan gue cuma sebates itu sih, gosah menduga lebih kalo gue kenalan, salaman, apalagi ngeraba koloni spesies asing (bagi gue) itu. Kalo beracun, tiba-tiba ngegigit kan bisa-bisa buduk kulit gue.
Gue bareng temen gue, sebut aja Anabel numpang duduk sambil (teteeeep) ngemil di pondokan di sana. Seperti pantai pada umumnya, pantai tsb memang difasilitasi pondokan-pondokan semacam bilik dari bambu yang berjajar di tepiannya. Lima menit kemudian, koloni spesies jantan muncul dari semak-semak, mereka riuh bercakap-cakap. Bukan, bukan koloni spesies (yang gue duga) cumi-cumi tadi, tapi mereka itu temen-temen cowok gue. Mereka itu sebut saja Boboi boy, Adudu, Fang, dan Bagogo.
Adudu : "busettt, tu orang-orang nggak takut apa gituan di sini, terus kalo abis itu nggak bisa lepas gimana coba.."
Boboi boy : "beuhh, lo ini.. ada cewek.. ngomongnya gitu! paraaahhhh.."
Suara mereka yang semula riuh, lalu merendah. Okesip, gue diem dan kemudian paham mereka lagi ngebahas topik tentang hal yang lumrahnya dilakuin di malem pertama.
Mereka lalu menghentikan topik bahasan
WTF??? Kondom?? dugaan (begok) gue kalo itu bangsa spesies cumi jauh meleset, lalu gue pun diem bengong full felling of najong.
*****awkward moment******
Perbincangan absurd itu pasti gara-gara penemuan banyaaaaaakk makhluk kecil bening yang berbaring lucu tersapu pasir-pasir pantai di sepanjang kaki melangkah. Beehhh.. mereka ini cepet kali ngenalin, paham amat kalo itu adalah benda berbahan dasar karet (yang kabarnya diperkaya) dengan varian rasa coklat, buah-buahan yang berfungsi untuk.. *ahsudahlah. Pondokan, pantai, sepi, remang-remang, angin sepoi-sepoi, semak-semak. Oh :\
Kemudian, kumpulan benda kecil bening bekasan itu kayak memandang ke arah gue, terus bilang "hay kenalin, gue karet. Karet kondom."
tamat.

No comments:
Post a Comment